Minggu, 30 September 2012

Jauh

Mendung masih sedikit menyisakan cahaya surya
Masih ingat tawamu sedihmu saat terakhir kita bertemu
Masih terasa saat kusandarkan kepala ini dibahumu
Kurasakan setiap beban yang kau panggul sendiri

Jauh...
Saat tangan ini tak lagi bersinggungan
Saat mata ini tak lagi saling isyaratkan cahaya
Tapi hati ini tak akan putuskan kerinduannya padamu

Jauh...
Kenapa harus ada jarak
Saat kita bisa membunuh waktu
Kenapa harus ada tangis
Padahal kita saling mengundang tawa
Dan kenapa ada gelap saat jalanku kau terangi dengan senyummu

Jauh...
Kau yang kini sudah jauh berbalik
Tak sejalan
Tak searah
Bahkan tak saling memikat
Rindu yang dahulu bisa buat sedikit senyum merekah
Sekarang hanya menyisakan tangis
Apa kita harus selalu merintih
Memohon agar Tuhan berikan jalan lurus yang kita bisa lalui berdua
Agar Tuhan bisa beri kita bulan yang sama untuk bersama kita pandangi

Jauh...
Jarak ini hanya buat kita menarik kenangan dan enggan melepasnya
Tak akan ada rumit bila kita mengerti
Bila secercah rindu tak kita abaikan
Seandainya cinta bisa memilih
Mungkin itu bukan untukku yang kau beri
Waktu memang kejam
Tapi jarak tak mau kalah kejam
Apa kita takbisa bunuh dua provokator itu
Agar semua bisa kita kemukakan

Jauh....
Apa kita tak pantas saling rindu
Saling berbagi memberi
Saling merintih
Saling menyapa manja
Saling berbagi bahagia, derita untuk dikaji bersama
Saling menatap untuk merasakan penderitaan
Saling mengerti agar yang lain bahagia.
Jauh...

Ketika semua sudah tak terhitung
Apakah kita harus berhenti
Ketika semua sudah biasa kita lakukan berdua
Apakah semua harus kita cukupkan

Jauh...
Sayang waktu dan jarak tak pernah menjadi sahabat.

-Yogywilly

Kamis, 27 September 2012

TIGA Hari Untuk Selamanya

Apakah kau bersedia ketika aku benar benar jatuh cinta ?
Mungkinkah kita akan terus merintih perih dari hari ke hari ?
Mungkinkah kebohongan akan menjadi pembenaran dikala kau sesekali pergi, dikala aku menangis sendiri.

Ada satu hari kau kecup keningku menyapa mesra aku manja
Ada satu hari kau mengucap kata cinta, berciuman kita tanpa lebih mengucap banyak kata
Dan ada satu hari kita berpesta, yang pada akhirnya aku menyerahkanmu pada keadaan, keadaan yang sebenarnya, kepada cinta yang selayaknya
Untukmu, kepasrahanku, bukti cintaku kepadamu

Tiga hari untuk selamanya, tiga hari terindah kita bersama, pergilah kau pria yang kucinta, biarkan aku disini memejam perih, merajut segala semua yang hanya kurasakan saja.

-Tiga Setia Gara

Jumat, 21 September 2012

Tahajud

Akulah si miskin yang kaya
Dadaku berkilauan bukan oleh permata
Sebab cinta telah disodorkan kemurahan semesta
Padaku. Kini aku menyeret langkah ke segala penjuru
Dan menulis puisi di sudut sudut malam
Di antara kesempitan bumi dan keluasan langit
Aku harus menggeliat dan menari
Sedih dan riangku menjadi tarian di udara
Lihatlah, langkahku berderap menyongsong matahari
Menempuh bukit demi bukit rahasiamu abadi
Beribu penyair menyerap tinta di lautan
Pohon pohon bergerak menuliskan kebenaranmu

Lihatlah, kain kafanku terus berkibaran
Memenuhi udara dengan bau keringat seorang pengembara
Meskipun hatiku telah dilumuri lumpur hitam
Aku tahu cahaya masih akan terbit dari tatapan matamu
Setiap pagi. Kemudian kau bakar segala yang ada di bumi
Hingga gairahku melonjak dan menari kembali
Hidup dan matiku akan terus berulang
Mengikuti irama ruang dan waktumu
Lihatlah, tak ada lagi mahkota dunia di kepalaku
Kemegahan hanya menganugrahiku sebuah pena
Zam zam ingin menghabiskan tinta di lautan
Kemudian bergerak bersama pohon pohon menuliskan cinta..